Berita Menyulut Prahara

[imagetag]


Anak Saya Tidak Diperkosa


Lingkar Berita mewawancarai orangtua gadis yang disebut sebagai biang kerusuhan horizontal di Lampung Selatan. Bagaimana penuturannya soal kejadian hari itu?

Di tepi Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) terpancang sebuah papan bertuliskan Desa Agom, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan. Lingkar Berita mencari kediaman gadis yang diberitakan menjadi pemicu kerusuhan di Lampung Selatan. Di desa ini, Lingkar Berita bertemu Rohimi (53 tahun), ayah si gadis.

Dia menuturkan awal peristiwa itu. Pada Sabtu (27/10/2012) sore, anak gadisnya bersama seorang keponakan perempuan meminjam motor Rohimi. Mereka hendak pergi ke sebuah minimarket di desa tersebut. "Dia pinjam motor saya, katanya mau ke Alfamart beli sesuatu. Saya pinjamkan motor itu," ujarnya.

Satu jam setelah dia pergi, telepon genggam putranya berdering. "Rupanya telepon dari anak gadis saya. Dia minta tolong karena terjatuh," kata dia. Ia berpikir gadis itu terjatuh sendiri. Rohimi tidak panik sedikitpun. "Saya biarkan putra saya menjemputnya," kisahnya.

Namun Rohimi terkejut melihat anak gadis dan keponakannya pulang diantar banyak orang. Semua tetangga juga mendatangi rumahnya. Cerita demi cerita perihal kecelakaan itu tersebar ke seluruh desa. "Menurut cerita anak saya, dia diganggu sepuluh pemuda yang membawa sepeda, satu diantara mereka ada yang menjegalnya dari depan hingga ia terjatuh," katanya.

Kemudian, beberapa pemuda dari kampung Agom melihat kejadian itu. Mereka berusaha menolong keduanya. "Karena lukanya serius, bidan menyarankan dirawat di rumah sakit," kata dia. Rohimi sempat menyampaikan lewat Kepala Desa Agom agar pihak keluarga si pemuda menanggung biaya pengobatan.

Kepala desa lalu pulang meninggalkan rumah Rohimi. Tak lama, tiga mobil polisi melintas. Satu diantaranya berhenti di depan rumah. "Polisi turun dan menanyakan kondisi anak gadis saya," kata dia. Menurut Rohimi, polisi menyarankan, agar anaknya segera dirawat. "Akhirnya anak saya dibawa ke rumah sakit dengan mobil polisi itu," kisahnya.

Rohimi mengaku tidak mengetahui kejadian kerusuhan yang dimulai malam itu. Dia beserta istri sibuk mengurus administrasi rumah sakit. Mereka memakai jaminan kesehatan daerah (jamkesda) untuk berobat di Rumah Sakit Daerah Kalianda.

Keesokan harinya, kerusuhan pecah. Warga Desa Agom mendatangi Desa Balinuraga. Hari pertama, polisi mencatat setidaknya tiga orang tewas dan beberapa rumah dirusak. "Kepala saya pusing, mengapa bisa begini. Bukannya saya gembira melihat kerusuhan yang asal muasalnya anak saya," kata lelaki berkulit sawo matang itu.

Rohimi kecewa dengan berita yang menyebut pemicu kerusuhan adalah pelecehan seksual. "Saya terkejut melihat berita. Saya merasa apa yang pernah saya sampaikan kepada media terkesan berlebihan," kata dia. "Pemberitaan itu bukannya meredam, apalagi menyelesaikan masalahnya, justru memperuncing keadaan."

Ia menegaskan, anak gadisnya tak diperkosa. Baginya, isu pelecehan seksual justru semakin memperkeruh keadaan. "Saya mohon pada media, beritakan dengan sebenar-benarnya. Sampaikan fakta yang sebenarnya, jangan ditambah-tambah. Itu hanya akan menambah panas suasana," tuturnya lagi.

Tidak ingin memperkeruh situasi, kepolisian melarang Rohimi beserta anaknya atau keluarga lainnya memberi keterangan apapun pada media. "Anak saya juga sekarang dirawat dalam pengamanan kepolisian," tuturnya.

Pasca kejadian bentrok antarwarga itu, Rohimi mengaku tak dapat lagi menggarap sawahnya. Padahal bertani adalah satu-satunya mata pencaharian yang menghidupi diri dan keluarganya. "Sekarang saya hanya berdiam saja di rumah. Anak saya sakit pasti butuh biaya," ujarnya lesu.

Nasi sudah menjadi bubur. Bentrok antarwarga yang melibatkan warga Desa Agom dan Balinuraga telah terjadi. Sebanyak 14 orang meninggal dunia, ratusan rumah bahkan sekolah dihancurkan massa yang kalap.

Ketimpangan

Desa Agom sebagian besar dihuni penduduk asli. Disini hanya sedikit bangunan rumah yang berbata merah. Sementara di Desa Balinuraga sebagian besar rumah warga memiliki tempat ibadah yang terukir indah.

Koordinator solidaritas penanganan konflik di Lampung Selatan dari Universitas Lampung, Syafaruddin menjelaskan, kerusuhan terjadi karena ketimpangan sosial mencolok. Satu perkampungan sebagian besar penduduknya adalah pendatang, dan sebagian lagi penduduk pribumi.

"Mereka sama-sama petani. Penduduk di satu kampung memiliki tanah berhektare-hektare. Tapi kampung lainnya hanya sebagai buruh petani," katanya.

Ia menambahkan kecemburuan sosial itu menjadi penyebab mereka mudah tersulut emosi dan diprovokasi. Selain itu, lanjutnya, pranata sosial tidak berjalan, transformasi antar kebudayaan tidak terkomunikasikan dengan baik. "Sehingga persoalan antarwarga sulit ditemukan pemecahannya," kata dia.

Kerusuhan hanya menimbulkan trauma yang mendalam bagi anak-anak dan orang dewasa. Warga Balinuraga masih hidup dalam pengungsian, sebagian dari mereka masih ada yang tinggal dalam hutan. Rumah-rumah ditinggalkan. Sesekali ibu-ibu datang menjenguk kondisi rumahnya, setelah itu mereka pergi lagi.

Kini, Rohimi berharap kerukunan antarkampung itu kembali terjalin. Dia ingin anak-anak yang hendak bersekolah bebas melintasi desa satu dengan lainnya. Orangtua bebas menggarap sawah mereka masing-masing tanpa ada rasa ketakutan. "Semua tidak akan tenang kalau ada kerusuhan ini, saya berharap kedua desa ini rukun kembali seperti semula," harapnya.

Amah Ahda Sabila | Ninin Damayanti
Foto oleh Kantor Berita Antara

Sumber:


================================

Komentar TS: Ya ampyuuuun..... siapa itu wartawan goblok yang gak ngerti bahwa verifikasi itu nyawanya jurnalistik. BUGIL DI HOTEL