Gantung Diri Karena Nilai Rendah

Entah apa yang sesungguhnya terjadi, akhirnya gadis belia yang masih duduk di bangku SMP Negeri itu harus mengakhiri hidupnya dengan gantung diri menggunakan seutas tali di leher di dalam kamarnya. Saat ditemukan orang tua kandungnya sepulang kerja, meli yang dalam kondisi tergantung itu masih bernafas, namun ianya sudah lemah. Lengkapnya badan Meli masih panas, dan kakinya sudah dingin. Namun pertolongan yang dilakukan oleh orang tuanya tidak membuahkan hasil, dalam perjalanan menuju rumah sakit, Meli sudah pergi menghadap sang khaliq.

Peristiwa pelajar bunuh diri ini kota Batam menjadi gempar dan beritanya pun simpang siur. Ada yang mengatakan bahwa pelajar itu bunuh diri lantaran orang tuanya marah lantaran nilai ujian tengah semesternya kurang baik. Tidak tanggung-tanggung sumber berita yang berkembang itu di dapat dari tentangganya. Sedangkan berita lainnya adalah pelajar tersebut sebelum menggantung dirinya, bertengkar hebat dengan orang tuanya. Namun apa sebab pertengkaran itu terjadi tidak diketahui. Karena kesal kepada orang tuanya, maka pelajar itu memilih untuk bunuh diri dengan seutas tali ayunan yang ada di kamarnya.

Betapa peristiwa ini membuat kita terenyuh. Saya tidak mengatakan bahwa peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh pelajar ini kali pertamanya. Peristiwa bunuh diri yang dilakukan oleh pelajar sudah sering. Hanya saja peristiwa bunuh diri ini hanya dianggap sebagai masalah lokal. Lebih jauh peristiwa penghilangan nyawa sekalipun hanya akan bertahan satu sampai tiga hari menjadi pembahasan yang tidak berujung. Setelah itu, dingin dan hilang dari peredaran.

Jika pelajar ini bunuh diri lantaran nilainya rendah lalu dimarahin oleh orang tuanya. Hal ini tidak bisa kita pungkiri. Kenapa tidak, pengharagaan dan apresiasi yang berlebihan itu hanya diberikan kepada siswa-siswi yang hanya juara kelas, atau paling tidak masuk dalam sepuluh besar. Sedangkan siswa yang tidak dalam kategori itu, maka kesimpulannya adalah siswa yang tidak mampu, siswa yang tidak bisa membanggakan orang tuanya, bahkan sebaliknya bisanya hanya memalukan orang tuanya.

Tersebutlah siswa itu jago di cabang olahraga misalnya cabang bulu tangkis. Tidak tanggung-tanggung, ia meraih medali emas di tingkat kota. Tahukah anda, apa hadiah yang di dapat dari sekolah, oleh sang peraih medali emas tersebut?, tidak lebih dari hanya ucapan selamat sambil bersalaman dan dibungkus dengan kalimat â??anda hebatâ?? lalu tepuk tangan.

Suasana menjadi heroik dan berbalik 180 derajat. Suasana menjadi riuh rendah, tepuk tangan sampai memekakan telinga, puji-pujian setinggi langit dan banjir hadiah. Apresiasi semacam ini hanya akan diraih oleh siswa yang berhasil menjuarai olimpiade fisika misalnya, sekalipun tingkat kecamatan. Tidak tanggung tanggung sang hero ini akan menjadi gunjingan berpekan pekan lamanya.

Menyedihkan bukan?. Tapi itulah kenyataannya. Sepertinya kekeliruan yang serius ini masih belum bisa menyadarkan banyak pihak. Terkesan, menjemput sebuah pengakuan dan untuk meraihnya hanya mengandalkan satu otak saja.

sumber


Semoga kejadian ini yang terkahir gan, sangat ironis dunia pendidikan kita. Hanya mengejar nilai (akademik) tapi dari sisi moral dan karakter kurang diterapkan di sekolah. BUGIL DI HOTEL